Source: http://caramembuat524.blogspot.com/2014/01/cara-agar-blog-tidak-bisa-di-copy-paste.html

Saturday, November 14, 2015

Peran dan Pemikiran Sutan Syahrir

Sutan Sjahrir
A.    Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan Sutan Sjahrir ketika menjabat

Sutan sjahrir jadi perdana menteri tanggal 14 november 1945. Walau relative muda dia berani tampil di panggung sejarah, mengambil tanggung jawab untuk mempertahankan keberadaan Republik Indonesia. Keadaan waktu itu sangat sulit. Akibat tiga tahun lebih pendudukan jepang, rakyat menderita kurang pangan dan pakaian. Dari desa-desa diangkut laki-laki muda untuk dijadikan romusha atau pekerja paksa bagi kebutuhan perang tentara Dai Nippon[1].
Walaupun serba kekurangan infrastruktur, sjahrir tidak mundur. Ia maju sebagai perdana menteri. Masalah-masalah politik dan kenegaraan segera saja datang dan harus di hadapinya, pada bulan November 1945 ia menanggulangi tekanan dari pihak sekutu yaitu tentara sekutu di bawah komando Lord Louis Mountbatten yang bermarkas di Kandy, Ceylon-Sri Lanka. Lalu menghadapi Belanda yang mau kembali dengan NICA ( Netherland Indies Civil Administration) di Nusantara.
Namun keadaan pada masa itu memperlihatkan permainan segitiga dengan masing-masing pelaku berada dalam keadaan lemah, Republik Indonesia yang masih baru karna pemerintahannya belum tersusun, juga sekutu yang kekurangan tentara di jawa dan Sumatra sehingga tidak mampu menguasai, dan Belanda yang tidak punya cukup pasukan untuk merebut kembali Hindia Belanda.
Permainan segitiga ini berlangsung dari tahun 1945 sampai akhir 1946 ketika tentara sekutu meninggalkan pulau jawa. Pada saat itu, jepang berhasil mempertemukan Indonesia dengan Belanda dalam perundingan di Linggajati yang menghasilkan sebuah persetujuan yang mengatur hubungan kenegaraan antara Indonesia dengan Belanda.
Adapun konsep-konsep utama yang tertuang dalam persetujuan linggajati sesungguhnya telah dirintis oleh Sjahrir dan Van Mook dalam pertemuan mereka bulan Desember 1945 yang kemudian terus dikembangkan sampai mencapai bentuk perumusan finalnya.
Dalam perjanjian Linggajati Belanda membuat keadaan menjadi rumit dan bertele-tele. Karna enggan mengakui dan menyetujui secera penuh isi perjanjian tersebut. Barulah empat tahun kemudian Belanda menerima kenyataan dia tidak bisa lagi berkuasa kembali di bekas negeri jajahannya. Belanda harus mengakui kedaulatan bangsa Indonesia pada tanggal 27 Desember 1949 setelah berlangsung Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag.
Konsep-konsep yang dikembangkan Sjahrir dalam perundingan dengan Belanda sebelumnya telah tertuang dalam pamphlet politik yang ditulisnya pada Oktober 1945 berjudul “perdjoeangan Kita”. Dr. Olaf Oudheusden menulis “perdjoengan Kita” mempunyai tiga tujuan, yaitu :
1.      Menjelaskan kepada rakyat Indonesia agar aktif mencegah jangan sampai Republik yang baru lahir itu jatuh ke tangan unsure-unsur radikal.
2.      Membersihkan rakyat dari elemen-elemen fasis, sebab 3 tahun pendudukan Jepang berhasil membuat banyak lapisan masyarakat menerima pikiran fasis.
3.      Memperoleh kepercayaan luar negeri terhadap Indonesia[2].
Hal ini harus membuat para pemimpin Republik melaksanakan suatu real politik. Bangsa Indonesia harus realistis dan pragmatis menhadapai Belanda pada masa itu. Berperang terus dengan Belanda bisa berujung mengahadapi Amerika dan Inggris yang kapitalis dan itu berarti menghancurkan kekuatan inti dan potensi bangsa Indonesia pada akhirnya. Oleh karena itu, suatu perdamaian dengan pihak Belanda harus dicapai, sjahrir mengusahakan suatu “win-win solution”.
Walaupun ditekan terus oleh Belanda, Inggris dan Amerika, Sjahrir tidak bergeming dalam usahanya mempertahankan kedaulatan Negara republic Indonesia. Semua itu sudah dipikirkan sjahrir ketika usia 36 tahun menjadi perdana menteri Republik Indonesia. Namun dalam perkembangan selanjutnya, banyak dari konsep sjahrir yang tidak terlaksana. Orde lama Soekarno, orde baru Soeharto telah membuat Indonesia merosot, terpuruk jadi suatu Negara pariah, Negara jagoan korupsi, Negara hancur-hancuran, Negara penuh kerusuhan[3].
B.     Peran dan Pemikiran Sjahrir
Sjahrir merupakan tokoh perjuangan Indonesia yang sangat menggeluti Sosialisme. Sosialisme pada saat itu merupakan ideologi yang menjadi arus utama gerakan revolusionisme. Sjahrir sendiri sebenarnya bukan seorang Marxis tulen, karena ia pun masih menaruh respek besar terhadap perekonomian Barat. Sjahrir kerap menamakan ideologi sosialisnya dengan sosialis kerakyatan. Ia mendirikan sebuah partai sosialis yang ia sendiri ketuai, Partai Rakyat Sosialis. Tak lama kemudian Partai yang ia dirikan tersebut bergabung dengan Partai Sosialis yang diketuai Amir Syafirudin dan menjadi Partai Sosialis Indonesia. Sjahrir sendiri yang menjadi ketua dari Partai Sosialis Indonesia dan diwakili oleh Amir Syafirudin[4].
Partai Sosialis Indonesia ditanggapi buruk oleh lawan-lawan politik Sjahrir di pemerintahan, Soekarno dan pendukung-pendukungnya. Berbagai demo dan propaganda yang terjadi pada masa itu mengguncang dengan cukup keras Sjahrir beserta partainya pada saat itu. Sjahrir pun beberapa kali dikucilkan dan dijadikan tahanan politik. Namun, pada kenyataannya bukanlah Sjahrir yang ingin terjun ke politik, namun politik sendiri yang tidak melepaskan Sjahrir daripadanya.
Sjahrir merupakan sosialis yang bersifat pragmatis karena masih menerima jalan diplomasi. Sjahrir memperjuangkan kepentingan rakyat lewat jalur politik. Sjahrir sendiri pada hakikatnya merupakan pejuang kemanusiaan yang demokrat demi mencapai impiannya: kerakyatan yang sejahtera dan beradab. Suatu kali Sjahrir yang sedang naik kereta api dikelas VVIP didapati menangis diam-diam setelah melihat kehidupan rakyat yang terlantar dari kaca kereta.
Seringkali gagasannya yang begitu tinggi hanya dapat diterima kaum elit. Sjahrir sendiri menentang feodalisme yang terjadi di Indonesia karena menghalangi kesejahteraan rakyat kecil. Baginya imperialisme bertemu dengan feodalisme akan menghasilkan bentuk fasisme. Fasisme menghambat kesamarataan dan persatuan nasional. Sjahrir cukup aktif mengisi kolom dengan nama samaran RealPolitiker di kolom-kolom koran atau esay tertentu[5].
Selain itu Sjahrir dianggap sebagai arsitek yang membatasi kekuasaan presiden, menjegal kehendak Soekarno membuat sebuah staatspartij yang tunggal, mencetuskan system multipartai dan memperbesar kewenangan parlemen, dan dengan demikian menciptakan system pemerintahan yang lebih demokratis[6].
Sjahrir merupakan seorang tokoh utama Republik dengan wawasan yang khas dan besar – sosialisme demokratis – dan sejak muda telah ikut serta dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Seperti halnya dengan kedua proklamator, ia pernah ditangkap dan dibuang oleh pemerintah colonial Belanda, tetapi berbeda dengan mereka, Sjahrir adalah penentang fasisme Jepang yang gigih seperti halnya Amir Sjarifudiin sementara arus utama berkolaborasi dengan Jepang. Setelah proklamasi kemerdekaan, sewaktu eksistensi republic terancam oleh tentara sekutu dan oleh belanda yang ingin kembali menjajah, dan suatu kekuatan domestic di bawah pimpinan Tan Malaka menuntut dicetuskannya revolusi social, presiden Sukarno yang popular, atau barangkali lebih tepat dikatakan, bangsa Indonesia, membutuhkan – apapun motivasinya – seorang Sjahrir menjadi perdana menteri, bahkan selama tiga kali berturut-turut sekalipun relative singkat. Setelah tidak lagi mengepalai cabinet, Sjahrir pun masih mendapat kepercayaan untuk memimpin delegasi Indonesia ke Dewan Keamanan PBB dengan tugas mempertahankan Kemerdekaan dan kedaulatan RI terhadap agresi Belanda[7].


*Hubungi saya jika ingin mendapatkan footnote lengkap. juga jangan lupa cantumkan blog ini.

Sunday, June 21, 2015

Resensi Novel Summit

Judul Buku : Summit
Pengarang :  Peringga Ancala
Tebal Buku :  193 hal
Penerbit      :  YARN , Ice Cube PT Gramedia, Jakarta
Cetakan      :  Mei 2015, Pertama.

"JANGAN BUNUH APAPUN KECUALI WAKTU,
JANGAN AMBIL APAPUN KECUALI FOTO,
DAN JANGAN TINGGALKAN APAPUN KECUALI JEJAK.
SALAM LESTARI!!!"

Disambut dengan sebuah quote yang melegenda di kalangan para pecinta alam, buku ini mengajak saya sedikit bernostalgia tentang UKM Mapala yang sempat saya ikuti meski hanya sebatas seleksi anggotanya saja, hahaha...
Akhir-akhir ini saya memang senang sekali berburu novel tentang kegiatan pecinta alam yang terfokus pada hutan dan gunung. Sebenarnya sudah sejak lama memang. Namun, baru kali ini ketemu lagi novel-novel tersebut misalnya ;

1. Cewek!!! - Esti Kinasih
2. 5 Cm - Donny Dirgantoro
3. 7 Divisi - Ayu Welirang
4. Altitude Mahameru - Azzura Dayana
5. Little Edelweiss - Nita Trismaya
6. Rengganis - Azzura Dayana.

Dan yang terakhir saya baca ini adalah "Summit" novel dengan cover berwarna coklat - putih dengan gambar Danau Sagara Anak sebagai fokus utama. Maka, isinya pun berlatarkan gunung Rinjani, gunung tertinggi ke-2 di Indonesia. Gunung dengan tingkat kesulitan yang tidak seharusnya diremehkan oleh pendaki paling profesional sekalipun, apalagi bagi para pendaki pemula nan amatir.
Novel karya Peringga Ancala - yang namanya baru kali ini saya dengar - menceritakan tentang seorang lelaki bernama Idan yang merupakan drummer sebuah band di Bandung. Idan dengan karakternya yang tengil dan belagu bin keras kepala ini dengan gigihnya ingin membuktikan pada Yoana, mantan pacarnya, bahwa dia juga mampu mendaki gunung seperti lelaki yg saat itu menjadi pacar baru Yoana.

Berangkatlah Idan ke lombok yang kemudian di sana ia bertemu dengan Lika. Gadis asli suku sasak yang ternyata juga seorang bangsawan berdarah biru. Lika merupakan seorang baiq yang menentang budaya sukunya, ketika perempuan seusianya sudah menikah dan memiliki anak. Lika malah berusaha mewujudkan sebuah mimpinya untuk menjadi seorang guide pendakian yang diakui dan berlesensi resmi.

Kesempatannya untuk membuktikan diri bahwa dia pantas menjadi guide pendakian datang lewat Idan yang tertipu oleh agen perjalanannya. Mereka berdua saling membutuhkan dengan misi untuk pembuktian diri tapi juga saling meragukan kemampuan masing-masing.
Diawali dengan sebuah prolog yang dramatis, pendakian menuju puncak rinjani yang begitu sulit hingga berjam-jam membuat Idan terserang Hipoksia. Selamatkah Idan? Berhasilkah Lika? Silahkan baca bukunya muahahaha...

Secara garis besar buku ini sangat menarik dan seru untuk dibaca, meski ada beberapa kata yang salah hurufnya. Tapi tidak mempengaruhi ketegangan yang dihasilkan penulis. Bahkan saya sempat merinding saat Idan pertama kali berhadapan langsung dengan Gunung Rinjani. Juga saya senang dengan beberapa istilah yang sangat informatif dan menambah wawasan saya.

Bahkan penulis menyelipkan pesan kepada para pembaca, khususnya untuk mereka yg berniat atau tertarik untuk mendaki gunung. Bahwa; gunung bukan untuk ditaklukkan, apalagi untuk ajang pamer-pameran di sosial media padahal membawa kembali sampahnya turun saja tidak bisa. Mereka yang benar-benar paham hakikat pendakian pendekatan pada alam, sudah seharusnya juga mampu menjalani hidupnya, sukses ditengah masyarakat dan mampu mewujudkan mimpi-mimpinya seperti Idan dan Lika. Bukan hanya bangga bisa memcapai puncak, tapi ibadah saja masih bolong-bolong. :p

Dari 1 - 10 saya berikan novel ini 8 bintang ;)

Saturday, May 30, 2015

Resensi Novel Negeri van Oranje

Judul: Negeri Van Oranje
Pengarang: Wahyuningrat, Adept Widiarsa, Nisa Riyadi, Rizki Pandu Permana
Tahun Terbit Awal : 2009
Penerbit: Bentang Pustaka
sumber : Google

Wait...sebetulnya saya belum tuntas membaca novel ini, hanya saja...saya tidak peduli itu, dari awal membacanya memang membingungkan. Berkali-kali tanya dalam kepala bermunculan, semakin keras suara membenturkan tanya dalam kepala. Bagaimana caranya 4 orang penulis menggabungkan cerita mereka dengan bahasa yang hampir kompak asiknya? ok, saya paham untuk kalian penulis hal tersebut memang suatu hal yang biasa saja.

Tapi, mungkin di sinilah indahnya sebuah persahabatn, tidak terlihat dari sebuah isi cerita tapi tampak nyata pada saat pertama kali kamu menggenggam buku bersampul orange tersebut. Buku ini merupakan bukti persabahatan, bukan begitu?

Ya, novel ini menceritakan tentang persahabatan 5 mahasiswa yang sebenarnya tidak bisa dikatakan masih muda, tapi jiwa mereka di Belanda sana menjadi begitu remaja dan kaya akan petualangan-petualangan kecil yang menggolakkan saya untuk ikut merasakan keseruan perjalanan tersebut. Mereka adalah Lintang, Banjar, Daus, Wicak, dan Geri, yang tidak sengaja bertemu dan akhirnya menjalin persahaban erat yang asik, kocak, ajaib plus romantis.

Para penulis di sini benar-benar memcoba membuktika sebuah teori yang mengatakan persahabatan antara laki-laki dan perempuan bukan hanya sebuah persahabatan, pasti terselip rasa yang berbeda di balik semua sikap -yang memang sewajarnya dilakukan oleh- seorang sahabat. Seorang perempuan dipertengahan usia matangnya, tanpa sadar berdiri di antara empat sahabat laki-lakinya yang sebenarnya menyimpan rasa untuk dirinya.

Tapi sang perempuan sendiri disibukkan dengan hubungannya bersama pacarnya yang orang bule. Nah, keempat laki-laki ini yang memang sewajarnya seorang lelaki merasa, mereka menjadi begitu penasaran dengan sosok perempuan sahabat mereka. Banjar, Wicak, Daus dan Geri seringkali merasa hari-harinya kurang lengkap apabila tidak bersapa-sapa dengan Lintang via milis persahabatan mereka, bahkan masing-masing pernah merasa nyaman saat berdekatan dengan sosok seorang lintang yang mereka kenal.

Naahh...novel yang belum selesai saya baca ini, tidak hanya menyuguhkan cerita tentang persahabatan, tapi juga memuat tentang tpis-tips juga info seputar Negara Belanda! khususnya untuk mereka yang ingin menuntut ilmu di negara kincir angin tersebut. yang membuat saya lebih betah lagi nih ya, gaya tutur cerita yang para penulis tuangkan tidak membosankan. Meski ada bebrapa halaman yang memang memuat penjelasan terlalu panjang, atau mendefinisikan sesuatu terlalu berlebihan. Enggak bikin bosen sih, cuma saya sendiri jadi sedikit malas membacanya dan akhirnya langsung pindah ke halaman selanjutnya hehe...

Secara keseluruhan, novel ini dambaan banget buat para pembaca atau penulis yang rada idealis soal isi, bukan dari segi EYD ya! (*ekheem kibas jilbab) dalam novel ini, banyak banget inpohh gan! gak cuma tempat, tapi juga pelajaran! hhahaha..secara ini cerita tentang orang-orang yang lagi kuliah S2. Oia, novel ini bukan buat mereka yang masih bocah ya! soalnya si Banjar, Wicak, dan daus kadang suka nyerempet bahas-bahas hal 17++ (you know holland yes??).

Jadi, saya pribadi merekomendasikan buku ini buat kakak-kakak yang mungkin mumet sama bacaan-bacaan yang terlalu berat atau sebaliknya. Novel ini pas deh (klo buat saya). Yaudah..saya mau lanjut baca dulu ya novelnya :D bye byee...

oia, kata(nya, gak tau siapa) filmnya akan rilis akhir tahun ini loooh..yeeaayy!!

The Cast Negeri van Oranje Movie!!!

Sunday, May 17, 2015

Firts Post in new blog

Bismillahirrahmannirrahiim...

ini blog ke-dua saya, yang kali ini akan saya isi dengan materi-materi perkuliahan yang pernah saya terima saat masih di kampus :D semoga bisa bermanfaat tapi bukan untuk dimanfaatkan secara ilegal (copy-paste) but if you still want it! just comment on the box ;)